Cerita sejarah

Kesetiaan B. J. Habibie

Oleh Steven

 

Ada seorang anak yang memiliki prestasi yang luar biasa gemerlang, anak itu bernama B. J. Habibie. Habibie sejak kecil selalu menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Pada saat Habibie memasuki pendidikan Sekolah Menengah Atas, ia mulai memperoleh banyak prestasi-prestasi bahkan, karena Habibie terlalu fokus untuk belajar, Habibie sampai-sampai tidak memperdulikan kisah asmaranya.

 

Pada saat Habibie lulus di pendidikan Sekolah Menengah Atas, Habibie mengalami kesulitan untuk memilih jurusan kuliah yang akan di tempuhnya. Namun untungnya, Habibie menyempatkan dirinya untuk bertemu dengan Mohammad Yamin. Pada saat itu Mohammad Yamin menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Habibie tentunya memanfaatkan hal ini untuk memberitahu kesulitan yang di hadapi Habibie, maka Mohammad Yamin menyuruh Habibie untuk mengambil jurusan yang nantinya akan berguna untuk masa depan Negara Indonesia yaitu Teknik Mesin (Teknik Penerbangan, spesialis konstruksi pesawat terbang).

 

Setelah Habibie berkonsultasi dengan Mohammad Yamin, Habibie membulatkan tekadnya untuk mengambil Jurusan Teknik Mesin di ITB (Institut Teknologi Bandung) dengan cita-cita untuk membuat pesawat terbang yang bisa membawa rakyat Indonesia ke titik-titik maritim luas di Indonesia. Kehidupan Habibie di Institut Teknologi Bandung kurang memuaskan, Habibie sering mengalami pembullyan karena Habibie dianggap sebagai anak manja yang dimana biaya kuliah Habibie ditanggung oleh ibunya. Setelah Habibie berkuliah selama 6 bulan di Institut Teknologi Bandung, Habibie memutuskan untuk melanjutkan S1 dan S2 Teknik Penerbangan Konstruksi Pesawat Terbang di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman Barat. Terdapat berita yang cukup mengejutkan para rakyat Indonesia setelah mengetahui bahwa Habibie membiayai sendiri kuliah nya karena ia menganggap bahwa biaya kuliahnya tidak boleh ditanggung oleh orang lain.

 

Pada hari pertama berkuliah di Institut Teknologi Bandung, Habibie melihat seorang perempuan yang cantik jelita, ia bernama Hasri Ainun Besari. Hasri Ainun Besari memiliki kecerdasan yang tak kalah dari Habibie, ternyata Habibie dan Ainun secara kebetulan memiliki guru pelajaran ilmu pasti yang sama sehingga mereka sering di jodohkan. Setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung, Ainun mendaftar fakultas kedokteran Universitas Indonesia dan Ainun diterima oleh Universitas Indonesia. Singkat cerita, Habibie pergi ke Jerman untuk fokus mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Pada saat di Jerman, Habibie bertemu dengan gadis Belanda yang bernama Arrabella Vanouck yang menjadi cinta pertama Habibie. Ternyata, Arrabella Vanouck juga memiliki ketertarikan dengan Habibie dan pada akhirnya Habibie dan Arrabella menjalin hubungan asrama. Karena ini adalah cinta pertamanya Habibie, ia memberikan kado ulang tahun kepada Arrabelle berupa jam tangan yang harganya dapat dibilang cukup mahal. Habibie melakukan hal ini karena Habibie tidak ingin mengecewakan cinta pertamanya. Namun, sangat disayangkan bahwa ternyata Arrabelle merupakan wanita yang bukan ditakdirkan untuk Habibie, Habibie mengetahui bahwa Arrabelle pada saat itu tidak hanya mencintai Habibie saja, namun terdapat satu pria lagi yang telah di kencani oleh Arrabelle. Hal ini memberikan pukulan yang sangat kuat kepada Habibie, kepedihan hati dirasakan setiap saat, air mata yang tidak dapat di bendung dan Habibie dengan tegas mengakhiri hubungan asmara pertamanya dan kembali fokus dalam dunia perkuliahannya di Jerman.

 

Karena hatinya yang sudah hancur itu, Habibie tidak dapat melakukan aktivitas biasanya dengan lancar, Habibie sangat membutuhkan waktu untuk melupakan semua kepedihan yang dia alami itu agar dapat mewujudkan cita-citanya. 2 tahun sudah berlalu, Habibie sekarang memiliki kepribadian yang lebih baik dari sebelumnya, ia sudah menjadi terkenal di kalangan mahasiswa yang ada di Universitas Aachen karena kecerdasannya yang luar biasa, bahkan Habibie berhasil menyelesaikan miniatur pesawat terbang pertamanya setelah 3 tahun berkuliah di Universitas Aachen. Tidak hanya menyelesaikannya, Habibie bahkan berhasil menerbangkan miniatur pesawat terbangnya meskipun masih menggunakan tenaga manual.

 

Pihak berkuasa dari Universitas Aachen tentunya menyadari kecerdasan dari Habibie sehingga pihak Universitas Aachen memutuskan untuk menjadikan Habibie sebagai warga negara dan aset negara Jerman. Karena Habibie memiliki cita-cita untuk membawa rakyat Indonesia ke titik-titik maritim luas di Indonesia, maka Habibie membuktikan kesetiaannya dengan menolak untuk menjadi warga negara Jerman tetapi Habibie harus merelakan ciptaan miniatur pesawat terbangnya tersebut.

 

Habibie berhasil menyelesaikan kuliahnya selama 8 tahun di Universitas Aachen dan bekerja di sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman Barat. Pada masa itu, yang menjabat sebagai Presiden Indonesia adalah Soeharto, Soeharto tidak ingin menyia-nyiakan bakat yang dimiliki oleh Habibie sehingga Habibie dipanggil kembali ke Indonesia dan lalu Habibie kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sejak tahun 1978 sampai Maret 1998. Presiden Soeharto dan Habibie memiliki hubungan yang cukup erat, mereka sering bertemu satu sama lain hingga pada saat itu Habibie melakukan suatu hal yang memicu kemarahan Presiden Soeharto, semenjak saat itu, Presiden Soeharto tidak ingin bertemu dengan Habibie hingga akhir hayatnya. Tidak lama setelah Habibie kembali ke Indonesia, Habibie bertemu lagi dengan Ainun, hubungan mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya dan ternyata, lagi-lagi Habibie jatuh cinta kepada seorang wanita. Habibie dan Ainun rupanya saling mencintai dan mereka berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain dan melakukan hubungan yang serius. Setelah beberapa tahun, Habibie dan Ainun memutuskan untuk menikah dengan menggunakan adat dan budaya khas Gorontalo.

 

Setelah menikah, Habibie memfokuskan dirinya dan memutuskan untuk membuat pesawat pertamanya. Awal kesuksesan dari Bacharuddin Jusuf Habibie adalah berawal dari pesawat pertama yang ia ciptakan yaitu Dornier DO-31 dan di susul dengan N250 Gatotkaca. Hal ini membuat nama Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi tenar di seluruh dunia. Dengan ini, Habibie merasa bahwa cita-cita yang ia impikan sejak kecil telah terwujud. Ternyata tak hanya sampai di sana, Habibie bahkan menjabat sebagai Presiden Indonesia ke-3 karena wafatnya Presiden Soeharto yang membuat Bacharuddin Jusuf Habibie ditunjuk sebagai pengganti dari Presiden Soeharto. Bacharuddin Jusuf Habibie juga merupakan orang yang menjabat sebagai Presiden Indonesia paling singkat yang pernah ada. Namun, banyak pencapaian yang telah diraih meskipun Habibie tidak menjabat lama.

 

Setelah masa jabatan Habibie telah habis, Habibie memutuskan untuk menjalani kehidupan yang damai yaitu berkeluarga. Sama seperti keluarga pada umumnya, selalu ada kebahagiaan dan kesedihan yang terselip dalam hubungan berkeluarga, sungguh Habibie mencintai istrinya yaitu Ainun. Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, Ainun mengalami sakit keras, Habibie dengan segera membawa Ainun ke Jerman untuk menjalani perawatan. Ainun menjalani pemeriksaan MRI dan dokter menyatakan bahwa Ainun menderita kanker ovarium stadium lanjut. Habibie langsung menghubungi Duta Besar Jerman di Indonesia dan meminta mereka untuk memindahkan Ainun kembali ke Indonesia, sebab Ainun berpesan dirinya tak ingin meninggal di Jerman. Pada akhirnya, Ainun meninggal pada tanggal 24 Maret 2010 di Jerman setelah menjalani 10 kali operasi. Ainun dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, begitu juga dengan Habibie pada saat wafat juga dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, yaitu di samping makam Ainun.

 

Note : Saya mengambil cerita ini berdasarkan cerita hidup B. J. Habibie dan film Habibie & Ainun.

Komentar